Selasa, 14 April 2015

Metode Experiential Learning


Dalam meningkatkan kepedulian sangat penting agar individu mampu bersikap secara efektif dan dapat diterima dengan baik di lingkungan sosialnya. Dalam teknik penerapan tersebut, hendaknya mengandung unsur-unsur yang terdiri dari unsur-unsur afektif (feeling), kognitif (thinking), dan konasi (doing). Unsur-unsur tersebut akan membentuk pemahaman yang integral dalam diri siswa. Metode yang digunakan dalam pelatihan kepedulian ini adalah eksperential learning.

Experiential Learning Theory (ELT) yang dikembangkan oleh David Kolb sekitar awal tahun 1980-an, yang menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiental learning pengalaman mempunyai peran sentral dalam proses belajar. Dalam teori experiential learning, belajar merupakan proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman (Kolb, 1984).
Experiential learning secara harfiah berarti belajar dari aktifitas mengalami dan merefleksikan apa yang telah dipelajari (Greef, 2005). Eksperiential bukan sekedar mendengarkan tetapi lebih pada mensimulasikan situasi kehidupan nyata, misalnya bermain peran, dan berpartisipasi dalam permainan. Dalam eksperiential learning melibatkan tubuh, pikiran, perasaan, dan tindakan. Oleh karena itu merupakan pengalaman belajar pribadi  yang utuh.
Ada dua bentuk model  pemahaman pengalaman, yaitu pengalaman nyata (concrete experience) dan konsep abstrak (abstract conceptualization). Selain itu ada pula dua bentuk model transformasi pengalaman, yaitu pengamatan reflektif (observation reflection) dan pengalaman aktif (active experience). Tahapan-tahapan model pembelajaran experince learning merupakan sebuah lingkaran sebagai berikut:




Gambar 2.1 Siklus empat langkah dalam Experiential Learning David  Kolb

Concrete experience (feeling) berarti belajar dari pengalaman-pengalaman yang spesifik, peka terhadap situasi. Concrete experience merupakan tahap belajar melalui intuisi dengan menekankan pengalaman personal, mengalami dan merasakan. Dalam tahap ini aktifitas yang mendukung misalnya diskusi kelompok kecil, simulasi, games, role play, teknik drama, video atau film, pemberian contoh, dan cerita (Kohonen, 2001).
Reflective observation (watching) yakni mengamati sebelum membuat suatu keputusan dengan mengamati lingkungan dari perspektif-perspektif yang berbeda. Memandang dari berbagai hal untuk memperoleh suatu makna. Pada tahap ini merupakan belajar melalui persepsi. Fokus pada memahami ide dan situasi dengan observasi secara hati-hati. Learner mengaitkan bagaimana sesuatu itu terjadi dengan melihat dari perspektif yang berbeda dan mengandalkan pada suatu pemikiran, perasaan dan judgement. Teknik instruksional yang dapat dilakukan antara lain melalui jurnal pribadi, essay reflektif, laporan observasi, diskusi dan thought questions.
Abstract conceptualization (thinking) yakni analisa logis dari gagasan-gagasan dan bertindak sesuai pemahaman pada suatu situasi sehingga memunculkan ide-ide atau konsep-konsep baru.  Abstract conceptualization merupakan belajar dengan pemikiran yang tepat dan teliti, menggunakan pendekatan sistematik untuk menstruktur dan menyusun kerangka fenomena. Teknik instruksional antara lain konstruksi teori, lecturing and building models and analogies.
Active experimentation (doing) berarti kemampuan untuk melaksanakan berbagai hal dengan orang-orang dan melakukan tindakan berdasarkan peristiwa termasuk pengambilan resiko. Active experimentation merupakan belajar melalui tindakan, menekankan pada aplikasi praktis dalam konteks kehidupan nyata. Teknik instruksional yang digunakan antara lain fieldwork, laboratory work, games, drama dan simulasi.

Dalam proses intervensi dengan metode experiental learning, pengajar/tutor berfungsi sebagai seorang fasilitator, artinya tutor hanya memberikan arah (guide) tidak memberikan informasi secara sepihak dan menjadi sumber pengetahuan tunggal. Setelah siswa melakukan suatu aktivitas, selanjutnya siswa akan mengabstraksikan sendiri pengalamannya. Seperti misalnya apa yang dirasakan oleh mereka dalam menyelenggarakan pertunjukkan, permasalahan yang dihadapi, bagaimana cara menyelesaikan masalah, apa yang dapat dipelajari untuk memperbaiki diri di masa depan. Jadi, pengajar lebih menggali pengalaman peserta itu sendiri. Untuk itu kemampuan yang diperlukan untuk menjadi fasilitator adalah mengobservasi perilaku siswa, menghidupkan suasana aktif partisipatif, bersikap netral dan percaya atas kemampuan siswa untuk memecahkan persoalannya sendiri. Dengan demikian pembelajaran dengan metode ini akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik lebih memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar