Dalam meningkatkan kepedulian sangat penting agar individu
mampu bersikap secara efektif dan dapat diterima dengan baik di lingkungan
sosialnya. Dalam teknik penerapan tersebut, hendaknya mengandung unsur-unsur
yang terdiri dari unsur-unsur afektif (feeling), kognitif (thinking), dan
konasi (doing). Unsur-unsur tersebut akan membentuk pemahaman yang integral
dalam diri siswa. Metode yang digunakan dalam pelatihan kepedulian ini adalah
eksperential learning.
Experiential Learning Theory (ELT) yang dikembangkan oleh
David Kolb sekitar awal tahun 1980-an, yang menekankan pada sebuah model
pembelajaran yang holistik dalam proses belajar. Dalam experiental learning
pengalaman mempunyai peran sentral dalam proses belajar. Dalam teori
experiential learning, belajar merupakan proses di mana pengetahuan diciptakan
melalui transformasi pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil
perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman (Kolb, 1984).
Experiential learning secara harfiah berarti belajar dari
aktifitas mengalami dan merefleksikan apa yang telah dipelajari (Greef, 2005).
Eksperiential bukan sekedar mendengarkan tetapi lebih pada mensimulasikan
situasi kehidupan nyata, misalnya bermain peran, dan berpartisipasi dalam
permainan. Dalam eksperiential learning melibatkan tubuh, pikiran, perasaan,
dan tindakan. Oleh karena itu merupakan pengalaman belajar pribadi yang utuh.
Ada dua bentuk model
pemahaman pengalaman, yaitu pengalaman nyata (concrete experience) dan
konsep abstrak (abstract conceptualization). Selain itu ada pula dua bentuk
model transformasi pengalaman, yaitu pengamatan reflektif (observation
reflection) dan pengalaman aktif (active experience). Tahapan-tahapan model
pembelajaran experince learning merupakan sebuah lingkaran sebagai berikut:
Gambar 2.1 Siklus empat langkah dalam Experiential Learning
David Kolb
Concrete experience (feeling) berarti belajar dari
pengalaman-pengalaman yang spesifik, peka terhadap situasi. Concrete experience
merupakan tahap belajar melalui intuisi dengan menekankan pengalaman personal,
mengalami dan merasakan. Dalam tahap ini aktifitas yang mendukung misalnya
diskusi kelompok kecil, simulasi, games, role play, teknik drama, video atau
film, pemberian contoh, dan cerita (Kohonen, 2001).
Reflective observation (watching) yakni mengamati sebelum
membuat suatu keputusan dengan mengamati lingkungan dari perspektif-perspektif
yang berbeda. Memandang dari berbagai hal untuk memperoleh suatu makna. Pada
tahap ini merupakan belajar melalui persepsi. Fokus pada memahami ide dan
situasi dengan observasi secara hati-hati. Learner mengaitkan bagaimana sesuatu
itu terjadi dengan melihat dari perspektif yang berbeda dan mengandalkan pada
suatu pemikiran, perasaan dan judgement. Teknik instruksional yang dapat
dilakukan antara lain melalui jurnal pribadi, essay reflektif, laporan
observasi, diskusi dan thought questions.
Abstract conceptualization (thinking) yakni analisa logis
dari gagasan-gagasan dan bertindak sesuai pemahaman pada suatu situasi sehingga
memunculkan ide-ide atau konsep-konsep baru.
Abstract conceptualization merupakan belajar dengan pemikiran yang tepat
dan teliti, menggunakan pendekatan sistematik untuk menstruktur dan menyusun
kerangka fenomena. Teknik instruksional antara lain konstruksi teori, lecturing
and building models and analogies.
Active experimentation (doing) berarti kemampuan untuk
melaksanakan berbagai hal dengan orang-orang dan melakukan tindakan berdasarkan
peristiwa termasuk pengambilan resiko. Active experimentation merupakan belajar
melalui tindakan, menekankan pada aplikasi praktis dalam konteks kehidupan
nyata. Teknik instruksional yang digunakan antara lain fieldwork, laboratory
work, games, drama dan simulasi.
Dalam proses intervensi dengan metode experiental learning,
pengajar/tutor berfungsi sebagai seorang fasilitator, artinya tutor hanya
memberikan arah (guide) tidak memberikan informasi secara sepihak dan menjadi
sumber pengetahuan tunggal. Setelah siswa melakukan suatu aktivitas,
selanjutnya siswa akan mengabstraksikan sendiri pengalamannya. Seperti misalnya
apa yang dirasakan oleh mereka dalam menyelenggarakan pertunjukkan,
permasalahan yang dihadapi, bagaimana cara menyelesaikan masalah, apa yang
dapat dipelajari untuk memperbaiki diri di masa depan. Jadi, pengajar lebih
menggali pengalaman peserta itu sendiri. Untuk itu kemampuan yang diperlukan
untuk menjadi fasilitator adalah mengobservasi perilaku siswa, menghidupkan
suasana aktif partisipatif, bersikap netral dan percaya atas kemampuan siswa
untuk memecahkan persoalannya sendiri. Dengan demikian pembelajaran dengan
metode ini akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga peserta
didik lebih memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar