Experiential Learning dalam
Meningkatkan Motivasi Pembelajar
Pepatah
mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Karena dari pengalaman
kita bisa belajar.
Menggairahkan pembelajaran
BIPA dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu di antaranya
memanfaatkan metode Experiential Learning. Dalam hal ini berbagai kegiatan yang pernah
dilakukan pembelajar BIPA sebagai pengalaman hidup dapat diakses menjadi suatu
materi kegiatan yang menarik. Mengapa
pengalaman mereka itu tidak dikemas dalam pembelajaran yang menarik ? Untuk menggerakkan motivasi belajar, proses
belajar paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami informasi sebelum
memperoleh bahan ajar yang akan dipelajari (Deporter, 2000: 25). Dengan kata lain, untuk menumbuhkan minat
pembelajar BIPA kita harus mendatangkan pengalaman umum yang dapat
diaplikasikan dalam pembelajaran. Dengan
demikian, mereka dapat menunjukkan kemampuannya dalam hasil yang nyata.
Metode Experiential Learning adalah suatu metode proses belajar
mengajar yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan
keterampilan serta nilai-nilai juga sikap melalui pengalamannya secara
langsung. Oleh karena itu, metode ini akan bermakna tatkala pembelajar berperan
serta dalam melakukan kegiatan. Setelah
itu, mereka memandang kritis kegiatan tersebut.
Kemudian, mereka mendapatkan pemahaman serta menuangkannya dalam bentuk
lisan atau tulisan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, Experiential Learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator
untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses
pembelajaran.
Perbedaan
mendasar antara Experiential Learning dengan cara tradisional adalah
Experiential Learning
|
Tradisional Content-based Learning.
|
Aktif
|
Pasif
|
Bersandar pada penemuan
individu
|
Bersandar pada keahlian
mengajar
|
Partisipatif, berbagai arah
|
Otokratis, satu arah
|
Dinamis dan belajar dengan
melakukan
|
Terstruktur dan belajar dengan mendengar
|
Bersifat terbuka
|
Cakupan terbatas dengan sesuatu
yang baku
|
Mendorong untuk menemukan sesuatu
|
Terfokus pada tujuan belajar
yang khusus
|
Metode Experiential Learning tidak hanya
memberikan wawasan pengetahuan konsep-konsep saja. Namun, juga memberikan pengalaman yang nyata
yang akan membangun keterampilan melalui penugasan-penugasan nyata. Selanjutnya, metode ini akan
mengakomodasi dan memberikan proses
umpan balik serta evaluasi antara hasil penerapan dengan apa yang seharusnya
dilakukan.
Dasar Pemikiran Penggunaan Experiential
Learning
Metode
Experiential Learning didasarkan pada
beberapa pendapat sebagai berikut:
- pembelajar
dalam belajar akan lebih baik ketika mereka terlibat secara langsung dalam
pengalaman belajar,
- adanya perbedaan-perbedaan secara individu dalam hal
gaya yang disukai,
- ide-ide dan prinsip-prinsip yang dialami dan
ditemukan pembelajar lebih efektif dalam pemerolehan bahan ajar,
- komitmen peserta dalam belajar akan lebih baik ketika
mereka mengambil tanggung jawab dalam proses belajar mereka sendiri, dan
- belajar pada hakekatnya melalui suatu proses.
Keuntungan Experiential Learning
Apabila
metode Experiential Learning dilakukan
dengan baik dan benar, maka ada beberapa keuntungan yang akan didapat, antara
lain:
- meningkatkan semangat dan gairah pembelajar,
- membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif,
- memunculkan kegembiraan dalam proses belajar,
- mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif,
- menolong pembelajar untuk dapat melihat dalam
perspektif yang berbeda,
- memunculkan kesadaran akan kebutuhan untuk berubah,
dan
- memperkuat kesadaran diri.
Kerangka Kerja Experiential
Learning
Briefing adalah tahap proses pengarahan
pada individu atau kelompok sebelum melakukan pengarahan.
Teknik-teknik yang perlu dikuasai antara lain:
- setting dan
conditioning (pengaturan dan
pengkondisian)
Experiential Learning menggunakan
prinsip belajar yang menekankan pada perubahan aspek pemahaman akan hasil
belajar tersebut. Salah satu cara untuk
memunculkan pemahaman adalah pengaturan situasi. Dalam hal ini, seorang pengajar harus
menyiapkan segala sesuatu yang akan dilakukan sehingga tercipta suasana yang
mendukung. Oleh karena itu, hal utama
yang perlu diperhatikan adalah pemahaman yang mendalam tentang kegiatan yang
akan digunakan. Hal-hal yang dapat
dikatakan sebagai pengaturan situasi antara lain:
- lokasi yang
akan digunakan,
- sarana yang akan dipakai,
- tata letak,
- aturan main, dan
- kata-kata, intonasi, dan tempo yang digunakan saat
penjelasan.
- directing
Directing adalah proses pengarahan pada
pembelajar tentang materi kegiatan yang akan dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat
melakukan pengarahan yaitu:
- tempo berbicara harus disesuaikan dengan kondisi
peserta dan juga situasi yang akan dimunculkan,
- gunakan alat bantu untuk memudahkan pembelajar memahami tujuan kegiatan,
- definisikan kata-kata penting untuk menyamakan
persepsi,
- demonstrasikan kegiatan yang harus dilakukan,
- jelaskan secara rinci prosedur kegiatan
- metode penjelasan dapat dilakukan dengan cara dari
umum ke khusus atau dari khusus ke umum,
- tanyakan kepada peserta apakah penjelasan dapat
diterima/difahami dll.
Seperti: apakah
penjelasan saya tadi dapat dipahami ?
- motivating
Pemberian
motivasi dilakukan ketika pembelajar mengalami penurunan semangat. Untuk mengatasi hal tersebut, pengajar dapat
melakukan beberapa cara berikut ini:
- jelaskan tujuan yang akan dijalankan,
- ungkapkan keuntungan yang akan diperoleh apabila
melakukan kegiatan tersebut,
- tunjukkan hubungan antara yang akan dijalankan
dengan aktivitas sebelumnya,
- tunjukkan kepercayaan kita bahwa mereka sanggup dan
mampu melakukan kegiatan
- tunjukkan antusiasme kita, baik dengan gerakan,
lisan, bahasa tubuh, dll.
- bila dianggap perlu ungkapkan pengalaman kita,
- beri tantangan yang realistik sesuai dengan
kemampuan mereka.
Activity adalah tahap individu/kelompok
melaksanakan kegiatan sesuai dengan briefing
yang telah diberikan.
Teknik-teknik
yang perlu dikuasai pengajar yaitu:
- observation
Observasi atau
pengamatan yang dimaksud di sini adalah tahap memberikan perhatian yang
intensif kepada kelompok untuk mengamati proses kelompok selama melaksanakan
kegiatan. Tahap ini menjadi sangat
penting sebagai bahan untuk review. Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)
mengamati segala perilaku individu yang muncul selama
kegiatan berlangsung
·
Apa yang dilakukan individu dan apa reaksi
individu lainnya atas reaksi tersebut
·
Sebab-akibat/aksi-reaksi yang positif maupun
negatif
2)
mengamati dinamika kelompok dalam menyelesaikan tugas,
masalah, dll.
·
pola interaksi antarindividu
·
proses penyelesaian tugas (pemanfaatan waktu,
sumber daya, dll.)
3) mencatat
hasil pengamatan tersebut (no 1 & 21) sebagai bahan untuk review
4)
bila perlu ingatkan perkembangan waktu
- Safety Control
(Pengamatan keamanan)
Fasilitator
wajib memperhatikan dan menjaga keamanan pembelajar dari hal-hal yang sekiranya
akan membahayakan mereka, baik secara fisik, mental, emosional, sosial, dan
rohani.
Hal-hal yang
bisa dilakukan untuk pencegahan antara lain:
a.
Perhatikan lingkungan fisik dari lokasi yang akan
digunakan;
·
amankan dari benda-benda yang membahayakan,
seperti batu, ranting, tanaman berduri,dll.
·
buat jalur dan siapkan pengaman untuk
lokasi-lokasi yang cukup berbahaya, seperti jurang, sungai, dll.
b.
Perhatikan kondisi peserta dari:
·
kata-katanya
·
intonasinya
·
bahasa tubuhnya
·
raut mukanya
·
tatapan matanya
- Intervention
(intervensi)
Intervensi
adalah kondisi pengajar ikut campur dalam proses kelompok, yang disebabkan
antara lain;
a.
individu/kelompok salah mempersepsi kegiatan yang harus dilakukan
b.
individu/kelompok tidak menemukan alternatif pemecahan
masalah atas persoalan yang sedang dihadapi
c.
konflik yang berkepanjangan dalam kelompok
d.
adanya indikasi ancaman yang membahayakan
individu/kelompok
Review adalah tahap pembelajar dibantu pengajar melihat dan
memandang secara kritis (apa, mengapa, dampak yang terjadi). Lalu menarik
insight/pelajaran dari pengalaman tersebut untuk diterapkan dalam kehidupannya.
Pada tahap ini diharapkan terjadi
proses Experiential Learning pada
individu maupun kelompok.
Untuk mempermudah proses review, pengajar dapat menggunakan
proses:
WHAT - SO WHAT - WHAT NEXT
1.
WHAT
Tahap-tahap yang perlu dilakukan yaitu:
- Tahap kejadian, yaitu tahap individu/kelompok menghadirkan kembali kejadian/pengalaman yang dialami
dan yang muncul
Ada beberapa
teknik yang dapat digunakan, antara lain yaitu:
1)
Tukang tiket
(arah jarum jam/rolling stone), yaitu pengajar menunjuk salah seorang
pembelajar untuk menceritakan pengalaman yang dialami dan dilakukan kelompok
2)
The memory game,
yaitu pengajar meminta pembelajar untuk menceritakan proses yang terjadi selama
kegiatan dari awal hingga akhir. Pembelajar lainnya dapat menginterupsi bila
dirasakan ada yang terlewat, dan pembelajar yang menginterupsi tersebut melanjutkan
3)
Gestalt,
yaitu pembelajar menceritakan kejadian diikuti dengan gerakan yang sama dengan
apa yang dilakukan saat kegiatan
4)
Temanku,
yaitu pembelajar diminta untuk menceritakan apa yang dilakukan oleh
rekan-rekannya selama kegiatan berlangsung
5)
Gambar, yaitu
pembelajar diminta untuk menceritakan
proses yang terjadi melalui gambar
6)
Bebas, yaitu pembelajar bebas menceritakan
apa yang dialaminya dan dirasakannya selama proses berlangsung.
7)
Karangan,
yaitu pembelajar diminta untuk menuliskan hasil kegiatan yang dilakukannya
dalam bentuk karangan
- Tahap latar
belakang dan dampak, yaitu tahap di mana pengajar menanyakan kepada
individu/kelompok, kenapa hal itu terjadi dan dampak apa yang timbul.
Perlu diperhatikan jenis kata tanya dan bentuk pertanyannya
·
Kenapa…..cenderung menimbulkan penolakan dari
individu/kelompok
·
Bagaimana …….bersifat informasi karena mengajak
peserta melihat proses yang terjadi dan melihat pada akar permasalahannya
Contoh
pertanyannya:
a.
Bagaimana perasaan anda pada saat….?
b. Apa
pendapat anda tentang kejadian tersebut?
c. Apa
sesungguhnya yang anda harapkan?
2. SO WHAT
Fase ini adalah
fase untuk mencari arti atau makna di balik kejadian. Pengajar mengajak
pembelajar untuk melihat secara kritis apa yang terjadi dan dampak yang
ditimbulkannya, lalu dikonfrontasikan dengan nilai-nilai yang dimilikinya, yang
akhirnya membuat kesimpulan sehingga menjadi pelajaran bermakna.
Ada beberapa
teknik yang dapat digunakan, antara lain;
- Fish bowl:
pembelajar dibagi ke dalam peran pengamat dan pemain. Pengamat diminta
untuk memberi tanggapan atas apa saja yang diungkapkan oleh pemain
tersebut.
- Simbol/konsep: individu/kelompok atau pengajar
mencoba menggambarkan apa yang diungkapkan oleh pembelajar ke dalam bentuk
gambar/symbol berdasarkan criteria-kriteria tersebut. Dengan cara ini akan
memudahkan individu/kelompok menemukan makna dari suatu kejadian.
- Langsung: pembelajar mengajak individu/kelompok untuk
melihat makna dari suatu kejadian, segera setelah individu/kelompok
mengungkapkan kejadian yang dialaminya.
Ada beberapa
model pertanyaan yang dapat digunakan:
·
Pelajaran apa yang didapat dari
pengalaman/kejadian tersebut?
·
Apakah hal tersebut mengingatkan pada sesuatu?
·
Hal menarik apa yang dapat kita peroleh dari
kejadian/pengalaman tersebut?
·
Sesungguhnya apa yang dapat dilakukan agar tidak
mengalami hal serupa di masa yang akan datang?
3. WHAT NEXT
Fase ini adalah
fase di mana pembelajar merencanakan penerapan pelajaran yang didapat dari
kejadian/pengalaman yang terjadi.
Beberapa model
pertanyaan yang dapat digunakan:
·
Bagaimana anda menerapkan pengalaman ini?
·
Apa yang anda sukai untuk melakukan ini?
·
Bagaimana manfaatnya bila kita menerapkan ini?
·
Perubahan apa yang anda akan lakukan dari
pengalaman ini?
Bagimana Menjadi Fasilitator dalam PELATIHAN
- Dasar Pemikiran
Memfasilitasi suatu pelatihan partisipatif (POD) membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dari seorang fasilitator. Akan tetapi untuk memfasilitasi suatu pelatihan yang baik, bukan hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan saja dari seorang fasilitator, bahkan pengalaman yang panjang sekalipun belum tentu menjamin seseorang akan melakukan fasilitasi pelatihan partisipatif dengan benar. Selain pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam memfasilitasi, dibutuhkan juga kedisiplinnan dan komitmen yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip serta daur belajar pelatihan dalam suatu proses pelatihan. Komitmen dalam menerapkan prinsip dan disiplin dalam melaksanakan proses daur belajar sangat menentukan suatu pelatihan itu partisipatif atau konvensional (one way traffic).
Ketika dalam fikiran seorang fasilitator bahwa dialah yang paling tahu, paling menguasai materi yang akan disampaikannya, dan fasilitator berniat mendominasi transformasi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta, maka pelatihan tersebut tidak dikatakan pelatihan partisipatif lagi. Demikian juga ketika fasilitator diawal materi langsung menjelaskan dan langsung menyimpulkan sendiri suatu materi atau pokok bahasan maka pelatihan tersebut juga batal menjadi suatu pelatihan yang partisipatif.
- Anggapan yang keliru
Sejumlah anggapan dan sejumlah praktek pelatihan partisipatif yang sering ditafsirkan secara keliru, terutama bagi mereka yang belum mengerti dan tanggung dalam memahami pelatihan partisipatif.
Kekeliruan yang sering terjadi adalah pemahaman pada metode pelatihan. Metode diskusi, baik itu diskusi kelompok diskusi pleno dsb. Merupakan anggapan yang keliru, jika dalam suatu pelatihan yang menggunakan metode diskusi langsung dikatakan suatu pelatihan partisipatif. Demikian juga dengan metode permainan, jika sudah ada permainan dalam suatu pelatihan maka orang langsung melakukan penilaian bahwa pelatihan tersebut memiliki kadar partisipatif yang sangat tinggi, karena dengan metode permainan tersebut peserta saling berinteraksi satu sama lain, dinamis, menyenangkan, dan tidak menggurui. Metode curah pendapat juga sering dinilai memiliki bobot partisipatif yang tinggi, karena dengan metode curah pendapat peserta sepertinya dihargai dan seolah-olah sangat demokratis.
Perlu diingat, metode curah pendapat, permainan, diskusi dan seterusnya bukan hak patennya pelatihan partisipatif (POD). Semua pendekatan pelatihan memiliki hak yang sama dalam menggunakan metode tersebut. Quantum Learning, Accclerated Learning, Vibrant teaching, bahkan PAKEM dan CTL yang digunakan dalam pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama juga menggunakan metode permainan, diskusi kelompok, curah pendapat, kerja praktek. Dsb.
- Dasar Penilaian
Dasar penilaian suatu pelatihan disebut Partisipatif terletak pada prinsip-prinsip, peran fasilitator, etika fasilitator dan penerapan ” Daur Belajar Pelatihan Partisipatif”. Penilain yang paling utama dari suatu pelatihan dapat dikatakan partisipatif sangat ditentukan dari penerapan daur belajar ini pada saat proses pelatihan ini dilaksanakan.
Penerapan daur belajar pelatihan partisipatif ini yang jarang dilaksanakan oleh sebagian besar fasilitator ketika memfasilitasi pelatihan partisipatif. Banyak hal yang menjadi alasan penyebab fasilitator sengaja atau tidak sengaja mengabaikan penerapan daur belajar ini. Salah satunya adalah kesulitan dalam mengimplementasikan daur belajar tersebut dalam praktek fasilitasi. Apalagi jika tujuan materi yang akan dilatihkan dinilai fasilitator belum diketahui dan dialami oleh peserta. Pilihan yang paling praktis adalah mengajari peserta dengan metode lebih banyak ceramah.
Sebenarnya ada cara yang lebih bijaksana untuk mensiasati jika materi yang akan disampaikan dinilai belum sama sekali diketahui oleh peserta. Asal fasilitator memegang prinsip ”tugas fasilitator adalah memberikan kemudahan bagi peserta dalam belajar, bukan mencari cara yang mudah mengajari peserta”, berikan kesempatan kepada peserta terlebih dahulu untuk mempelajari sesuatu yang hendak dipelajari , agar peserta memiliki pengetahuan terlebih dahulu tentang materi yang akan dipelajari.
Tugas fasilitator memberikan kemudahan untuk bisa belajar mandiri, penjelasan fasilitator diberikan jika peserta membutuhkan. Motto fasilitator adalah
”terlarang bagi fasilitator membantu peserta untuk sesuatu yang dapat dikerjakan oleh peserta sendiri”
4. Tips Fasilitasi
Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah untuk memfasilitasi suatu Pokok Bahasan atau Sub Pokok Bahasan dengan mudah. Tips fasilitasi ini membimbing fasilitator tidak keluar dari daur belajar pelatihan partisipatif (POD).
Langkah 1
Langkah pertama yang harus diperhatikan fasilitator pada saat memfasilitasi suatu pokok bahasan (materi) adalah memahami tujuan masing-masing materi. Jangan sampai terjadi tujuan materi tidak difahami dengan baik. Tujuan materi harus dipastikan merupakan suatu indikator yang dapat diukur. Semakin dapat diukur suatu tujuan semakin mudah tujuan tersebut dapat difasilitasi.
Langkah 2.
Cari media untuk disimulasikan kepada peserta. Media ini berfungsi untuk menggali pengalaman dan pengetahuan peserta untuk mencapai tujuan materi yang hendak dicapai. Idealnya untuk mencapai satu tujuan menggunakan satu media, tetapi dapat terjadi satu media dapat menggali beberapa tujuan. Sebagai contoh untuk mencapai tujuan ”pengertian kerjasama” dalam materi Membangun Tim kerja dapat menggunakan audio visual orang sedang bermain sepak bola
Asumsi penggunaan media ini merupakan upaya untuk merealisasikan daur belajar pertama yaitu; ”Mulai dari pengalaman peserta”
Langkah 3.
Simulasikan media tersebut bersama peserta, sebagai contoh putarkan audio visual sepak bola untuk diamati oleh peserta. Fungsi dari memutarkan media ini untuk memfokuskan pemikiran peserta pada tujuan kerjasama yang akan kita fasilitasi
Langkah 4
Setelah mensimulasikan media tadi, gali kesan, perasaan, dan makna yang bisa diambil dari permainan sepakbola tadi (media). Jika kesan, perasaan, dan makna yang diungkap peserta belum sesuai atau masih jauh dari pencapaian tujuan yang hendak dicapai, maka fasilitator memiliki hak untuk menyampaikan kesan, perasaan, dan makna simulasi. Tentunya makna yang disampaikan peserta sesuatu yang akan mencapai tujuan materi sesi yang sedang difasilitasi.
Langkah 5
Setelah mensimulasikan media, kaitkan makna simulasi media tersebut dengan kondisi yang dialami peserta. Seperti contoh fasilitator menanyakan kepada peserta ”Apakah makna dari kerjasama dalam permainan bola tadi juga dialami oleh peserta dalam masyarakatnya?. Jika peserta mengatakan tidak, maka fasilitator bersama –sama peserta melakukan analisa kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Lakukan curah pendapat dengan peserta sampai ditemukan solusi yang diungkapkan peserta sendiri. Jika solusi yang diungkapkan peserta masih dianggap kurang oleh fasilitator, maka fasilitator juga memiliki hak untuk menyampaikan solusinya sesuai dengan pencapaian tujuan dari materi pelatihan
Langkah 5 ini adalah aplikasi dari penerapan daur belajar yang ke 3 yaitu tarik kesimpulan bersama peserta.
Langkah 6
Setelah disepakati kesimpulan dari pencapaiaan satu tujuan materi dapat dilakukan atau disepakati upaya-upaya untuk menerapkannya bersama peserta
Selamat berpraktek


Tidak ada komentar:
Posting Komentar